Merupakan detail cerita dari SUTTHIBAY TRIP
"Arrgh...finally, nyentuh Sumatera juga" teriak saya dalam hati ketika menginjakkan kaki di Bandara Polonia, Medan, Rabu 10 Agustus 2011 pukul 18.05
Karena takut telat dan nghadepin macet di Bandung, saya berangkat agak pagi dari Terminal Baranang Siang Bogor naik bus MGI yang baru berangkat jam 7 pagi seharga 40ribu rupiah. Nyampe di leuwipanjang langsung naek angkot 01 ke arah Cimahi, turun di Batas Kota,kasih aja 2000 perak, terus naek 1x angkot lagi ke Patung Husein, dari Patung Husein jalan kaki atau naik ojeg ke bandara.
Kamis, 15 September 2011
Selasa, 13 September 2011
SUTTHIBAY TRIP, 10-16 AGUSTUS 2011
Sebuah iklan yang memenuhi sepertiga lembar koran nasional ternama pada akhir April lalu membuat saya ternganga. Salah satu perusahaan penerbangan yang berkonsep low cost carrier menawarkan tiket promo MEDAN-BANGKOK seharga Rp 170.000,00 "Waw, kapan lagi nih bisa ke Thailand" pikir saya waktu itu.
Seketika saya langsung searching cara paling murah dari rumah gue ke Medan, ternyata, dengan maskapai yang sama, rute Bandung-Medan hanya Rp 220.000,00(pantesan PELNI gak laku yah, naek kapal laut 3 hari 3 malam, kelas ekonominya aja udah Rp 353.000). Langsung aja saya bungkus tuh tiket2 promonya untuk pertengahan Agustus, karena saya butuh waktu untuk nabung dan menganggap saya bisa aman dari kegiatan kampus pd waktu2 itu(kampus saya bisa seenak jidad ngerubah jadwal tanpa protes berarti dari mahasiswanya, karena ganjarannya bisa saja di DO). Rencananya saya akan overland dari Bangkok selama 8 hari dan pulangnya flight dari Singapur ke Jakarta tanggal 18 Agustus, lagi2 dapet promo, 145rebu..
Senin, 04 Juli 2011
CouchSurfing JakartaSuburb's Gathering di Bogor
“Awas!!!Jangan sampe kesentuh!!hati2”
“Ayo terus2, lari terus sampe ujung”
Begitulah teriakan2 kami, anggota CouchSurfing (CS) Region Jakarta Suburbs(Bekasi,Bogor,Depok,dll) saat bermain galasin(petak 9) di Kebon Raya Bogor, 22 Mei 2011 silam pada acara gathering yang biasanya dilaksanakan secara rutin sebulan sekali oleh anggota CS Jakarta Suburbs,kebetulan, dua gathering terakhir dilaksakan di Bogor.(gathering sebelumnya di restoran Gili-Gili)
Mungkin ada yang penasaran, apa sih CouchSurfing itu?
“Ayo terus2, lari terus sampe ujung”
Begitulah teriakan2 kami, anggota CouchSurfing (CS) Region Jakarta Suburbs(Bekasi,Bogor,Depok,dll) saat bermain galasin(petak 9) di Kebon Raya Bogor, 22 Mei 2011 silam pada acara gathering yang biasanya dilaksanakan secara rutin sebulan sekali oleh anggota CS Jakarta Suburbs,kebetulan, dua gathering terakhir dilaksakan di Bogor.(gathering sebelumnya di restoran Gili-Gili)
Mungkin ada yang penasaran, apa sih CouchSurfing itu?
Rabu, 25 Mei 2011
BALI I'M COMING!!!
“wah, kalo nyampe banyuwangi sih bisa lebih dari 7 jam mas” kata mbak bertahi lalat di antara hidung dan bibir yang duduk di depan saya dalam kereta Sri Tanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi.
Surabaya, pk 14.00-an
Betapa bodohnya saya yang mengira perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi hanya memakan waktu 4-5 jam, mungkin mata saya sedang error ketika melihat Peta Jawa Timur di buku Atlas yang saya miliki sejak kelas 1 SMP dulu, plus informasi dari situs PT. KAI yang melegitimasi persangkaan saya, atau mungkin waktu itu saya sedang lupa kalau kereta ekonomi di Indonesia jarang (kalau tidak mau dibilang tidak pernah) tepat waktu kedatangannya.
Sepanjang perjalanan kami (saya dan si E) ngobrol dengan tiga mbak-mbak yang duduk persis berhadap-hadapan dengan kami( tau kan model kursi kereta ekonomi jarak jauh?). Mereka asli orang Banyuwangi yang berkarya di Jawa Tengah. Percakapan dari arah mereka didominasi oleh mbak-mbak bertahi lalat yg tetap enerjik walaupun usianya sudah 40 tahun, perpaduan bentuk wajah dan tahi lalatnya membuat saya menjulukinya sebagai Christine Hakim dari Banyuwangi. Dua orang lainnya adalah seorang pemalu dan seorang ‘Yes Woman’ yang sering meng’iya’kan celotehan si Christine Hakim dengan senyam-senyum garing.
Obrolan bermula dari pertanyaan Christine hakim kepada kami “mau kemana mas?” yang memancing proses saling Tanya berikutnya yang alurnya tidak jelas “gimana kuliah di STAN? Enak ga?” , “tempat pariwisata di Banyuwangi apa aja sih?” , “loh kok pengen penempatan di BKF? Bukannya lulusan STAN disalurin ke Depkeu ya?” dan pertanyaan-pertanyaan ra cetok lainnya, hingga akhirnya satu persatu dari kami mulai berguguran (tidur, bukan mati) di tiga jam sebelum sampai banyuwangi. Oiya, di perjalanan kereta sempat melewati lumpu lapindo yang kini menjadi tmpat wisata (what a beautiful country! Lumpur pun bisa jadi tempat wisata)
Stasiun Banyuwangi, pukul 21.00-an
Dengan tubuh agak gontai, kami berjalan keluar stasiun menuju pelabuhan ketapang, banyak ojek yang menawarkan jasa-jasanya, namun sesuai anjuran dari teman2 Backpacker Indonesia, kami berjalan kaki saja karena katanya dekat.
Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 10-15 menit menjadi 30 menit buat kami karena kesasar, seharusnya keluar stasiun lurus, baru belok kanan. Alhasil kami melewati daerah seperti semak-semak( seperti yg biasa kita liat di samping2 rel kereta) dan kami sempet pipis “numpang-numpang” berjamaah bersama satu orang ga jelas yang ikut kesasar bereng kami. Beruntung warga sekitar cukup ramah ketika kami menanyakan arah menuju tempat tujuan kami, yaitu Pelabuhan Ketapang.
Pelabuhan Ketapang, sekitar 21.30
Kami memasuki areal pelabuhan lewat pintu masuk pedestrian, tanya2 kemana arah jalan ke kapal hingga akhirnya sekitar 10 menit kemudian kami sampai di tempat pembelian tiket, hanya Rp 5,500 untuk sampai Gilimanuk. Sampai di kapal, penumpang menunggu sekitar 20 menit sampai kapal dirasa aman untuk berangkat. Teman saya, si E, tidur di lobi kapal ditemani lagu-lagu dangdut ga terkenal, sementara saya ke sisi kapal, memandangi tenangnya air selat #maksa dan lampu-lampu yang bersinar indah dari kejauhan.
Sekitar 40 menit kemudian, kapal mendekati pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kami pun turun dari lobi lt.2 ke tempat parker kendaraan di lt.1, saya melihat motor dengan plat B, saya pun hanya berani bertanya dalam hati “ni motor berangkat dari Jakarta ke Bali pake motor?” . Kami melihat bis Jember-Denpasar(sebenernya udah liat daritadi pas masuk kapal, tapi tadi lagi males nawar), sang kenek ngasih “harga jember” yaitu 55ribu, padahal kan ini udah di “Bali”, proses tawar menawar berhenti ketika kedua belah pihak sepakat di angka 30 ribu.
Bawalah KTP untuk masuk Bali, karena ada pemeriksaan di pos sebelum keluar areal pelabuhan, seorang teman di blog lain pernah ga boleh masuk Bali cuma karena ga bawa KTP, najis cuih banget kan udah capek2 n jauh2 tapi ga bisa ke Bali gara2 KTP doing..
Berada di Bali Barat belum membuat saya merasa ada di Bali, walaupun ada beberapa ogoh-ogoh yang terlihat di kanan kiri jalan yg didominasi oleh pohon2 tinggi menjulang. Sebagian besar waktu dalam bis kami habiskan untuk tidur lelap, skitar 4 jam kami terbangun dan mendapati diri telah berada di Terminal Ubung Denpasar, dan saya pun berteriak dalam hati “BALI, I’M COMING”
Surabaya, pk 14.00-an
Betapa bodohnya saya yang mengira perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi hanya memakan waktu 4-5 jam, mungkin mata saya sedang error ketika melihat Peta Jawa Timur di buku Atlas yang saya miliki sejak kelas 1 SMP dulu, plus informasi dari situs PT. KAI yang melegitimasi persangkaan saya, atau mungkin waktu itu saya sedang lupa kalau kereta ekonomi di Indonesia jarang (kalau tidak mau dibilang tidak pernah) tepat waktu kedatangannya.
Sepanjang perjalanan kami (saya dan si E) ngobrol dengan tiga mbak-mbak yang duduk persis berhadap-hadapan dengan kami( tau kan model kursi kereta ekonomi jarak jauh?). Mereka asli orang Banyuwangi yang berkarya di Jawa Tengah. Percakapan dari arah mereka didominasi oleh mbak-mbak bertahi lalat yg tetap enerjik walaupun usianya sudah 40 tahun, perpaduan bentuk wajah dan tahi lalatnya membuat saya menjulukinya sebagai Christine Hakim dari Banyuwangi. Dua orang lainnya adalah seorang pemalu dan seorang ‘Yes Woman’ yang sering meng’iya’kan celotehan si Christine Hakim dengan senyam-senyum garing.
Obrolan bermula dari pertanyaan Christine hakim kepada kami “mau kemana mas?” yang memancing proses saling Tanya berikutnya yang alurnya tidak jelas “gimana kuliah di STAN? Enak ga?” , “tempat pariwisata di Banyuwangi apa aja sih?” , “loh kok pengen penempatan di BKF? Bukannya lulusan STAN disalurin ke Depkeu ya?” dan pertanyaan-pertanyaan ra cetok lainnya, hingga akhirnya satu persatu dari kami mulai berguguran (tidur, bukan mati) di tiga jam sebelum sampai banyuwangi. Oiya, di perjalanan kereta sempat melewati lumpu lapindo yang kini menjadi tmpat wisata (what a beautiful country! Lumpur pun bisa jadi tempat wisata)
Stasiun Banyuwangi, pukul 21.00-an
Dengan tubuh agak gontai, kami berjalan keluar stasiun menuju pelabuhan ketapang, banyak ojek yang menawarkan jasa-jasanya, namun sesuai anjuran dari teman2 Backpacker Indonesia, kami berjalan kaki saja karena katanya dekat.
Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 10-15 menit menjadi 30 menit buat kami karena kesasar, seharusnya keluar stasiun lurus, baru belok kanan. Alhasil kami melewati daerah seperti semak-semak( seperti yg biasa kita liat di samping2 rel kereta) dan kami sempet pipis “numpang-numpang” berjamaah bersama satu orang ga jelas yang ikut kesasar bereng kami. Beruntung warga sekitar cukup ramah ketika kami menanyakan arah menuju tempat tujuan kami, yaitu Pelabuhan Ketapang.
Pelabuhan Ketapang, sekitar 21.30
Kami memasuki areal pelabuhan lewat pintu masuk pedestrian, tanya2 kemana arah jalan ke kapal hingga akhirnya sekitar 10 menit kemudian kami sampai di tempat pembelian tiket, hanya Rp 5,500 untuk sampai Gilimanuk. Sampai di kapal, penumpang menunggu sekitar 20 menit sampai kapal dirasa aman untuk berangkat. Teman saya, si E, tidur di lobi kapal ditemani lagu-lagu dangdut ga terkenal, sementara saya ke sisi kapal, memandangi tenangnya air selat #maksa dan lampu-lampu yang bersinar indah dari kejauhan.
Sekitar 40 menit kemudian, kapal mendekati pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kami pun turun dari lobi lt.2 ke tempat parker kendaraan di lt.1, saya melihat motor dengan plat B, saya pun hanya berani bertanya dalam hati “ni motor berangkat dari Jakarta ke Bali pake motor?” . Kami melihat bis Jember-Denpasar(sebenernya udah liat daritadi pas masuk kapal, tapi tadi lagi males nawar), sang kenek ngasih “harga jember” yaitu 55ribu, padahal kan ini udah di “Bali”, proses tawar menawar berhenti ketika kedua belah pihak sepakat di angka 30 ribu.
Bawalah KTP untuk masuk Bali, karena ada pemeriksaan di pos sebelum keluar areal pelabuhan, seorang teman di blog lain pernah ga boleh masuk Bali cuma karena ga bawa KTP, najis cuih banget kan udah capek2 n jauh2 tapi ga bisa ke Bali gara2 KTP doing..
Berada di Bali Barat belum membuat saya merasa ada di Bali, walaupun ada beberapa ogoh-ogoh yang terlihat di kanan kiri jalan yg didominasi oleh pohon2 tinggi menjulang. Sebagian besar waktu dalam bis kami habiskan untuk tidur lelap, skitar 4 jam kami terbangun dan mendapati diri telah berada di Terminal Ubung Denpasar, dan saya pun berteriak dalam hati “BALI, I’M COMING”
Senin, 28 Maret 2011
Confession
Confession? Pengakuan dosa?
Iya betul, ini adalah pengakuan dosa saya tentang foto. sebenarnya saya ingin membeberkan hal ini setelah saya posting BDT 4, namun karena respon dari temen2 , saya merasa terdesak untuk menulis hal ini
Seperti yang kita ketahui, bepergian atau travelling tanpa kamera dan foto2 ibaratnya sama dengan Pocong Ngesot, kehilangan substansi, pocong kok yo ngesot?pocong y loncat2 lah, malah jejaring kaskus terdapat slogan no pics=hoax, jadi kamera adalah peralatan yang wajib dibawa setelah pakaian..
Naek Kereta ke Surabaya
Sebenarnya ga bener2 dari Jakarta, tapi dari bogor karena tempat tinggal saya di Bogor, teman saya yg ikut trip ini pun menginap sehari sebelumnya. Kereta berangkat pukul 13.oo wib dari stasiun jakarta kota, takut kehabisan tiket, kami berangkat dari Bogor sekitar pukul 8 pagi, naek kereta ekonomi jabotabek seharga Rp 2.500 sampai kota. Sesampainya di Kota pukul 10, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket KA Gaya Baru Malam Selatan, di loket terdapat tulisan "Tempat Duduk Habis", kami tetep sabodo teuing walaupun ntar ngemper di kereta, jd kami tetep ngantri buat beli tiket. Oiy, sampe sini udah tau maksud judulnya kan?BDT itu Bali Daypack Trip
Selama mengantri, setidaknya ada 2 petugas yang menghampiri menawarkan tiket dengan tempat duduk seharga Rp 90.000..tentunya kami tolak, karena hampir 3x dari harga semestinya yang sebesar Rp 33rb.
Bali Daypack Trip(BDT): Sebuah Pengantar
Sesuai namanya BDT kalo pake translate kasar artinya Trip ke Bali pake Daypack..iya, daypack..tas maen yg ga layak disebut ransel seperti kebanyakan backpacker pake..Ini karena saya dan seorang temen saya yg ga punya backpack yg layak, jd terpaksa kami pakai daypack. Lagipula, walaupun kami ke Bali dengan gaya Backpacker style..kami tidak berani memakai kata backpack karena takut para backpacker garis keras(orang2 yg berpendapat bahwa backpacking itu ya harus bener2 pakai backpack) tersinggung.
Ok, benang merah, Trip ini kami lakukan berdua sekitar 1 tahun lalu, bulan Maret 2010, sekitar 14 hari PP(minus 1 hari ngendon di rumah gara2 nyepi).
Langganan:
Komentar (Atom)



