Tampilkan postingan dengan label Travel Narrative. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel Narrative. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 April 2012

Jangan Ada Dusta dalam Peta


Rasa penasaran yang mendalam terhadap Bangkok membawa saya ‘nekat’ traveling ke kota yang sering disebut surga bagi para pelancong dunia tersebut.

Matahari seakan malu untuk menampakkan wajahnya saat ‘burung besi’ yang saya tumpangi mendarat di Bandara Suvarnabhumi , pelabuhan udara internasional kebanggaan masyarakat Thailand, yang menggantikan peran Bandara Don Muang yang kini hanya melayani penerbangan rute domestik.

Bandara ini terdiri dari empat lantai dan merupakan bandara dengan terminal tunggal terbesar kedua di dunia. Kemegahan ini tidak membuat saya linglung untuk mencari passport control karena pihak bandara memberikan petunjuk arah yang cukup jelas. Banyaknya pelancong yang datang ke Bangkok mengakibatkan antrian panjang, walaupun pihak bandara telah menyediakan pos pengecekan paspor sebanyak jumlah personil Cherrybelle.

Tiba gilirannya, saya menangkupkan kedua tangan di depan dada kepada petugas, persis seperti yang saya pelajari di Youtube. Gerakan ini disebut WAI, salam hormat khas Thai. Selesai urusan imigrasi, saya berjalan mencari SA City Line, moda transportasi massal untuk menuju downtown Bangkok . Awalnya agak sulit mencarinya, karena saya tidak menemukan petunjuk arah bertuliskan ‘SA City Line’, setelah beberapa kali naik turun eskalator, seorang petugas yang wajahnya mirip mas-mas tukang cukur rambut di daerah Meruya, saya jadikan ‘korban’ pertama untuk saya tanya2. Beliau menjawab “Left, left” sambil mengarahkan telunjuknya ke papan petunjuk bertuliskan “To Train”, pantas saja dari tadi tidak ketemu, ternyata seharusnya saya mengikuti directions bertuliskan To Train, bukan SA CityLine, saya pun mengucap khap kun kap kepada si petugas sebagai ucapan terima kasih.

Senin, 14 November 2011

Negeri Seribu Pagoda yang Menggoda

Tulisan pertama saya yang terbit di Radar Bogor, rubrik Traveling, 16 Oktober 2011.

Sesuai dengan julukannya, Thailand merupakan negara yang memiliki begitu banyak pagoda (dalam bahasa setempat disebut wat). Dua yang paling terkenal berada di pusat kota Bangkok- Wat Pho dan Wat Arun.

Langit siang itu cerah saat saya beranjak dari tempat menginap di Sutthisan Road, sebuah daerah di timur laut kota Bangkok, menuju pusat kota. Berbagai macam situs dapat dikunjungi di pusat kota. Keindahan duo Wat Pho dan Wat Arun sayang untuk dilewatkan.

Rabu, 21 September 2011

Ternyata mereka GAY(2)

Lanjutan dari Ternyata mereka GAY(1)

Sekitar pukul 9 malam, bang Jay sms kalo dia udah ada di dekat gerbang depan ramadhan fair,saya langsung menuju kesana, kirain 2-3 menit bisa nyampe gerbang, tau2nya padet banget, lebih padet daripada gerbang kalimongso kalo lagi musim ujian anak2 ST*N, mungkin lebih dari 10 menit saya baru bisa sampai di gerbang depan.
Walaupun ga pernah ketemu, saya dengan mudah menemui si bang Jay karena sempat melihat foto2nya di profil CouchSurfing miliknya. Basa-basi dikit, terus cabut naik motor ke kosannya dia di gang Pasundan, dekat jalan Gatsu-nya Medan. Di perjalanan kami melewati tempat paling terkenal (menurut gue) di Medan, yaitu Merdeka Walk.

Kamis, 15 September 2011

Ternyata mereka GAY!!!(1)

Merupakan detail cerita dari SUTTHIBAY TRIP

"Arrgh...finally, nyentuh Sumatera juga" teriak saya dalam hati ketika menginjakkan kaki di Bandara Polonia, Medan, Rabu 10 Agustus 2011 pukul 18.05

Karena takut telat dan nghadepin macet di Bandung, saya berangkat agak pagi dari Terminal Baranang Siang Bogor naik bus MGI yang baru berangkat jam 7 pagi seharga 40ribu rupiah. Nyampe di leuwipanjang langsung naek angkot 01 ke arah Cimahi, turun di Batas Kota,kasih aja 2000 perak, terus naek 1x angkot lagi ke Patung Husein, dari Patung Husein jalan kaki atau naik ojeg ke bandara.

Rabu, 25 Mei 2011

BALI I'M COMING!!!

wah, kalo nyampe banyuwangi sih bisa lebih dari 7 jam mas” kata mbak bertahi lalat di antara hidung dan bibir yang duduk di depan saya dalam kereta Sri Tanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi.

Surabaya, pk 14.00-an

Betapa bodohnya saya yang mengira perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi hanya memakan waktu 4-5 jam, mungkin mata saya sedang error ketika melihat Peta Jawa Timur di buku Atlas yang saya miliki sejak kelas 1 SMP dulu, plus informasi dari situs PT. KAI yang melegitimasi persangkaan saya, atau mungkin waktu itu saya sedang lupa kalau kereta ekonomi di Indonesia jarang (kalau tidak mau dibilang tidak pernah) tepat waktu kedatangannya.

Sepanjang perjalanan kami (saya dan si E) ngobrol dengan tiga mbak-mbak yang duduk persis berhadap-hadapan dengan kami( tau kan model kursi kereta ekonomi jarak jauh?). Mereka asli orang Banyuwangi yang berkarya di Jawa Tengah. Percakapan dari arah mereka didominasi oleh mbak-mbak bertahi lalat yg tetap enerjik walaupun usianya sudah 40 tahun, perpaduan bentuk wajah dan tahi lalatnya membuat saya menjulukinya sebagai Christine Hakim dari Banyuwangi. Dua orang lainnya adalah seorang pemalu dan seorang ‘Yes Woman’ yang sering meng’iya’kan celotehan si Christine Hakim dengan senyam-senyum garing.

Obrolan bermula dari pertanyaan Christine hakim kepada kami “mau kemana mas?” yang memancing proses saling Tanya berikutnya yang alurnya tidak jelas “gimana kuliah di STAN? Enak ga?” , “tempat pariwisata di Banyuwangi apa aja sih?” , “loh kok pengen penempatan di BKF? Bukannya lulusan STAN disalurin ke Depkeu ya?” dan pertanyaan-pertanyaan ra cetok lainnya, hingga akhirnya satu persatu dari kami mulai berguguran (tidur, bukan mati) di tiga jam sebelum sampai banyuwangi. Oiya, di perjalanan kereta sempat melewati lumpu lapindo yang kini menjadi tmpat wisata (what a beautiful country! Lumpur pun bisa jadi tempat wisata)

Stasiun Banyuwangi, pukul 21.00-an

Dengan tubuh agak gontai, kami berjalan keluar stasiun menuju pelabuhan ketapang, banyak ojek yang menawarkan jasa-jasanya, namun sesuai anjuran dari teman2 Backpacker Indonesia, kami berjalan kaki saja karena katanya dekat.
Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 10-15 menit menjadi 30 menit buat kami karena kesasar, seharusnya keluar stasiun lurus, baru belok kanan. Alhasil kami melewati daerah seperti semak-semak( seperti yg biasa kita liat di samping2 rel kereta) dan kami sempet pipis “numpang-numpang” berjamaah bersama satu orang ga jelas yang ikut kesasar bereng kami. Beruntung warga sekitar cukup ramah ketika kami menanyakan arah menuju tempat tujuan kami, yaitu Pelabuhan Ketapang.

Pelabuhan Ketapang, sekitar 21.30

Kami memasuki areal pelabuhan lewat pintu masuk pedestrian, tanya2 kemana arah jalan ke kapal hingga akhirnya sekitar 10 menit kemudian kami sampai di tempat pembelian tiket, hanya Rp 5,500 untuk sampai Gilimanuk. Sampai di kapal, penumpang menunggu sekitar 20 menit sampai kapal dirasa aman untuk berangkat. Teman saya, si E, tidur di lobi kapal ditemani lagu-lagu dangdut ga terkenal, sementara saya ke sisi kapal, memandangi tenangnya air selat #maksa dan lampu-lampu yang bersinar indah dari kejauhan.

Sekitar 40 menit kemudian, kapal mendekati pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kami pun turun dari lobi lt.2 ke tempat parker kendaraan di lt.1, saya melihat motor dengan plat B, saya pun hanya berani bertanya dalam hati “ni motor berangkat dari Jakarta ke Bali pake motor?” . Kami melihat bis Jember-Denpasar(sebenernya udah liat daritadi pas masuk kapal, tapi tadi lagi males nawar), sang kenek ngasih “harga jember” yaitu 55ribu, padahal kan ini udah di “Bali”, proses tawar menawar berhenti ketika kedua belah pihak sepakat di angka 30 ribu.

Bawalah KTP untuk masuk Bali, karena ada pemeriksaan di pos sebelum keluar areal pelabuhan, seorang teman di blog lain pernah ga boleh masuk Bali cuma karena ga bawa KTP, najis cuih banget kan udah capek2 n jauh2 tapi ga bisa ke Bali gara2 KTP doing..

Berada di Bali Barat belum membuat saya merasa ada di Bali, walaupun ada beberapa ogoh-ogoh yang terlihat di kanan kiri jalan yg didominasi oleh pohon2 tinggi menjulang. Sebagian besar waktu dalam bis kami habiskan untuk tidur lelap, skitar 4 jam kami terbangun dan mendapati diri telah berada di Terminal Ubung Denpasar, dan saya pun berteriak dalam hati “BALI, I’M COMING”

Senin, 28 Maret 2011

Naek Kereta ke Surabaya


Sebenarnya ga bener2 dari Jakarta, tapi dari bogor karena tempat tinggal saya di Bogor, teman saya yg ikut trip ini pun menginap sehari sebelumnya. Kereta berangkat pukul 13.oo wib dari stasiun jakarta kota, takut kehabisan tiket, kami berangkat dari Bogor sekitar pukul 8 pagi, naek kereta ekonomi jabotabek seharga Rp 2.500 sampai kota. Sesampainya di Kota pukul 10, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket KA Gaya Baru Malam Selatan, di loket terdapat tulisan "Tempat Duduk Habis", kami tetep sabodo teuing walaupun ntar ngemper di kereta, jd kami tetep ngantri buat beli tiket. Oiy, sampe sini udah tau maksud judulnya kan?BDT itu Bali Daypack Trip

Selama mengantri, setidaknya ada 2 petugas yang menghampiri menawarkan tiket dengan tempat duduk seharga Rp 90.000..tentunya kami tolak, karena hampir 3x dari harga semestinya yang sebesar Rp 33rb.